Kementerian Agama RI.

Institut Agama Islam Negeri Ambon

Jalan Dr. H. Tarmizi Taher - Kebun Cengkeh - Batu Merah Atas
Ambon - Maluku - Indonesia

    Penganugerahan Pemenang Terbaik Ajang UCIFEST 8 Universitas Multimedia Nusantara (UCIFEST-UMN), yang dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon, Dr. A. Mujaddid Naya, Kameraman, Husni Tokomadoran, dan crew, Yusuf Samanery, ini digelar di Ruang Lecture Teater, Kampus UMN, Tangerang, Kamis, 23 November 2017 malam.
    Film dokumenter dengan latar pendayung terakhir ini mengambil lokasi shooting di kawasan Teluk Ambon, Poka-Galala, dan Air Ali, Kota Ambon, yang mengisahkan para pendayung perahu di kawasan tersebut. Film dokumenter 'Pendayung Terakhir', ditetapkan sebagai juara satu setelah melewati seleksi secara ketat, dari sekitar 260 film dokumenter karya para mahasiswa pada berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam proses seleksi, UCIFEST UMM memilih lima kategori; film Pendayung Terakhir, yang kemudian menjadi juara satu, Film Wiwitan, Ojek Lusi, Arsa Bintang Candra dan Passion Before Toe.
    Alasan para Juri untuk dipilihnya 'Pendayung Terakhir' sebagai pemenang, karena ada keberanian untuk mengangkat perubahan dan berpihak kepada mereka yang menjadi korban, yang disampaikan dengan cara jujur dan intim, akui Kameraman, Husni Tokomadoran.
    Direktur Obscure Alhazen, sekaligus Sutradara Film Dokumenter Pendayung Terakhir, Ali Bayanudin Kilbaren, menjelaskan, alasan dipilihnya film ini karena latarnya yang menarik untuk ditonton. Proses produksi, Lan (sapaan pendeknya_ren) mengaku, dibantu langsung oleh BaileoDOC, milik Rifki Husain, sutradara film dokumenter, Provokator Damai, yang berhasil mendunia. "Kami dibantu oleh para senior terbaik, seperti abang Rifki Husain dan Pityanto Manuputty."
    Kata Lan, secara singkat, di dalam synopsis film mengisahkan, betapa tidak, sejak tahun 1950, transportasi perahu telah melayari Teluk Ambon. Membawa penumpang dari Desa Galala ke Desa Poka. Sebaliknya. Dari Poka ke Galala. Transportasi perahu merupakan transportasi tercepat yang memotong jalur dari wilayah Leitimur menuju Leihitu dan sangat diminati masyarakat. Hanya saja, usaha para pendayung ini harus gulung tikar seiring perkembangan pembangunan di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Salah satunya, setelah kelancaran Kapal Feri yang menghubungan route tersebut. Usaha para pendayung kemudian pupus, setelah pada April 2016, Presiden RI, Joko Widodo, meresmikan Mega Proyek Jembatan Merah Putih, yang menghubungkan kedua lokasi.
    Jembatan terpanjang di Indonesia Timur ini meski memberikan kemudahan bagi warga dalam transportasi, namun di sisi lain telah membunuh mata pencaharian kurang lebih 200 pendayung, yang selama puluhan tahun setia melayani pelanggannya. Tak ayal, melihat keberadaan tersebut, Lan bersama rekan-rekannya yang masih duduk di bangku kuliah Prodi Jurnalistik IAIN Ambon, lalu tertarik untuk mengangkat isu ini sebagai film Dokumenter. Besar harapannya, film ini dapat menarik perhatian pemerintah, baik Kota Ambon, maupun Pemprov Maluku, bahkan dunia Indonesia, agar lebih prihatin terhadap kondisi lain dibalik perubahan pembangunan di daerah ini. Film Dokumenter ini juga mengisahkan tentang kemajuan semu yang diperjuangkan pemerintah namun menyengsarakan masyarakat kecil.
    Lebih mendalam, kata Lan, sesungguhnya tujuan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan kepada masyarakat. Namun, kalau pembangunan yang sudah diadakan, tapi meninggalkan kesengsaraan di masyarakat, maka harus dievaluasi. Sedianya, rencana pembangunan ini diawali dengan menyiapkan lapangan kerja kepada kurang lebih 200 KK yang tinggal di pesisir Kota Ambon, khususnya para pendayung terakhir di Poka dan Galala. Kenyataannya, usaha para pendayung yang sudah memberikan pendapatan hidup selama puluhan tahun, harus tiada setelah dibangun JMP. Rata-rata para pendayung telah meninggalkan usaha mereka, dan bahkan ada yang terpaksa pulang kampung lantaran kehilangan mata pencaharian, yang sudah digeluti puluhan tahun. "Para pendayung ini ada yang anaknya sudah menjadi guru, mahasiswa, bahkan anggota TNI-Polri. Para pendayung secara langsung kehilangan mata pencaharian setelah JMP difungsikan," tukas Lan, kepada Rakyat Maluku, yang nantinya akan dibuat dalam filmnya tersebut.
    Lan berharap, setelah film ini diproduksi dan diputar, warga Maluku terutama pemerintah dapat melihat bahwa ada ratusan warga di kawasan tersebut, membutuhkan uluran tangan untuk mengembalikan nasib mereka, yang sudah direnggut akibat pembangunan JMP. "Paling tidak lewat film ini, pemerintah dan masyarakat tahu, bahwa ada ratusan warga yang sudah putus harapan hidupnya akibat kehilangan mata pencaharian. Sedianya, pemerintah dapat melanjutkan hidup mereka dengan menyediakan lahan baru. Misalnya bagaimana menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi wisata, untuk menghidupkan kembali para pendayung ini," pesan Lan. Terakhir, sebagai mahasiswa di IAIN Ambon, Lan berharap agar setelah karyanya ini, pihak lembaga dapat melegalkan mereka menjadi unit kegiatan mahasiswa. "Mudah-mudahan dari film ini akan ada UKM Film di IAIN Ambon," tutup Lan.
    Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon, Dr. A. Mujaddid Naya, merasa bangga dengan kesukseskan para mahasiswanya, yang setiap tahun selalu bermunculan. Sebelumnya, ada karya Rifki Husain dan Ali Mady Salay, dengan Film Dokumenter Provokator Damai, kemudian karya Film Munysera yang sementara digarap, plus Pendayung Terakhir. Bahkan, diketahui ada sejumlah sineas baru yang sementara juga berporses dalam pembuatan film pendek.
    Sebagai pimpinan Fakultas, Mujaddid, tak ingin meninggalkan mereka berjalan sendiri, tapi akan terus memberikan dukungan agar skill para mahasiswa ini intens diasa, dan kelak akan menjadi bekal untuk menciptakan lapangan kerja, setelah mereka menjadi sarjana dan meninggalkan kampus IAIN Ambon. Ia meminta, agar para mahasiswa selain sibuk dalam dunianya, juga tak lupa aktif mengikuti proses kuliah dan senantiasa beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga semua usaha yang ditekuninya dapat bernilai pahala di sisi Tuhan Yang Maha Esa. (***)