Kementerian Agama RI.

Institut Agama Islam Negeri Ambon

Jalan Dr. H. Tarmizi Taher - Kebun Cengkeh - Batu Merah Atas
Ambon - Maluku - Indonesia

    Pelatihan yang langsung dipraktekkan dalam bentuk menulis karya ilmiah ini, menghadirkan pemateri tunggal, dosen STAIN Sorong, yang juga Visitor Professor Linkoping University Swedia, Editor Journal Bereputasi Scopus, Ismail Suardi Wekke.
    Pelatihan ini merupakan respon dari keresahan Ketua Jurusan PAI, Dr. Hj.  ST. Jumaida, terhadap kondisi dan perkembangan para mahasiswa dan dosen, khususnya di Prodi PAI IAIN Ambon akan kebutuhan akademik. Atas alasan itulah, kemudian pelatihan ini digelar dengan maksud untuk memboboti para peserta tentang bagaimana menulis karya ilmiah yang baik, hingga menghasilan prodak berupa buku, dan bahkan menembus jurnal internasional. Demikian dijelaskan Ismail, di sela-sela kegiatan tersebut.
    Ismail justru mengagumi masyarakat di Maluku pada umumnya. Pasalnya, Maluku termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang ikut terlibat dalam mengangkat tongkat kemerdekaan Republik Indonesia. Nyong Ambon kata Ismail, mewakili Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Nah, hal ini secara jelas bahwa mestinya Maluku mengalami kemajuan dalam dunia akademik yang setara dengan di luar Maluku, seperti Jawa dan Sumatera. Namun saja, Maluku justru masih jauh tertinggal dari daerah-daerah tersebut. "Nyong Ambon hadir di Sumpah Pemuda. Artinya, orang-orang Ambon saat deklarasi sumpah pemuda sudah maju. Lalu mengapa kita merasa tertinggal dari pada orang di luar Maluku. Pasti karena ada spirit yang tidak kita lanjutkan. Orang Ambon, adalah orang-orang cerdas. Bahkan, Nyong Ambon meliputi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat," kata Ismail.
    Menurut Ismail, lewat pelatihan ini kiranya akan memotivasi para dosen dan mahasiswa di IAIN Ambon umumnya untuk dapat meningkatkan budaya menulis. Sebab, kalau budaya tutur atau oral terus dikembangkan, maka lambat laun, budaya tersebut akan hilang. Berbeda dengan budaya menulis. Budaya menulis akan terus bertahan untuk selama-lamanya. Tapi, kalau tidak dimulai dari sekarang, maka selamanya budaya menulis ini tidak akan ada di kampus IAIN Ambon. "Tradisi lisan kalau dibiarkan, maka suatu saat akan punah. Tugas kita sebagai dosen, bagaimana mengabadikan tradisi oral atau lisan menjadi tulisan. Supaya, cerita-cerita dari Kei, Seram, tidak hanya sebatas dituturkan dari generasi ke generasi. Tapi, orang di luar Maluku dapat membaca versi aslinya yang ditulis oleh orang Maluku sendiri," pesan dia.
    Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tanggungjawab bersama untuk dikelola ke aspen pembangunan yang baik, tapi salah satu poin penting dari pengembangan tridharma perguruan tinggi yang tertuang dalam penelitian dan pengabdian masyarakat yakni menulis. Kalau tidak menulis, bagaimana bisa mempertahankan tradisi perguruan tinggi, kritik Ismail.
    Generasi Maluku sangat cerdas-cerdas di bangsa ini. "Terlalu banyak cerita-cerita dari Maluku, mulai dari Ambon, Kei, Seram, yang dapat menjadi inspirasi bagi dunia, tapi karena tidak ditulis, semuanya semu. Selama ini, kita selalu berkiblat ke Eropa, Amerika, karena mereka menulis. Sebab itu, dosen harusnya menulis," tegas dia, sembari mencontohkan cerita salah satu dosen yang menjadi peserta kemarin, dan mengisahkan pengalaman perjalanannya, yang diramu menjadi buku bersama mahasiswa. "Kalau ada 25 dosen seperti itu di IAIN Ambon, maka tidak heran kalau tiap semester akan lahir 25 buku dari berbagai aspek penulisannya," tukas Ismail. Bahkan dengan menulis, kita dapat melindungi budaya yang ada di Maluku. Kalau tidak ditulis, maka budaya itu akan hilang dengan sendirinya, hingga ada yang menulisnya. Sebab itu, mulailah menulis. Di Seram, Kei, maupun Kota Ambon. Semuanya harus menulis secara ilmiah, pesan dia.
    Sementara untuk kegiatan ini, harap Ismail, dari pelatihan ini kiranya para peserta mampu menulis karya ilmiah bersama, baik itu dosen, maupun mahasiswa. Sehingga, ke depannya tidak hanya artikel tapi juga dapat melahirkan buku yang menjadi referensi bagi semua orang di Maluku dan Indonesia umumnya. "Sebelumnya pelatihan bersama dosen, dan hari ini (kemarin) lanjut bersama mahasiswa. Bahwa, dosen dan mahasiswa harus bersama-sama untuk melahirkan karya ilmiah, misalnya membuat buku." Tegas Ismail, kegiatan ini langsung melahirkan prodak. Melibatkan mahasiswa akan menjadi kelanjutan dari para dosen. Sebab itu, konsennya tidak hanya ke dosen yang tak lama lagi akan selesai bertugas di kampus, tapi juga kepada mahasiswa yang merupakan pelanjutan dari pembangunan IAIN Ambon. Terakhir, kata dia, mahasiswa dan dosen IAIN Ambon telah memiliki pengetahuan dalam menulis karya ilmiah, yang lemah itu, bahwa menulis belum dibudayakan di IAIN Ambon. "Dunia akademik kita, masih masih menganut budaya kopi paste. Hampir terjadi di semua kalangan, baik itu mahasiswa dan juga dosen. Budaya atau tradisi menulis sendiri itu belum ada. Saya berharap, dari sini orang akan mengurangi tradisi kopas ini," pesan Ismail, menutup.
    Sedangkan, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, Dr. Hj. ST. Jumaida, pada kesempatan ini berharap, kiranya pelatihan seperti ini akan terus berlanjut. Sebab itu, pelatihan penulisan karya ilmiah ini akan melatih dan membudayakan tradisi mahasiswa untuk menjadi penulis. Salah satu kunci sukses di perguruan tinggi itu, kata dia, mampu menulis dengan baik sebuah karya ilmiah. "Kegiatan ini kiranya dapat memotivasi seluruh mahasiswa PAI. Meski tidak semua, namun lewat yang ikut ini, dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan atmosfir dalam bidang menulis. Outputnya kepada mahasiswa dapat menulis artikel dan lain sebagainya untuk pengembangan individu maupun kelompok penulisan karya ilmiah," singkat Jumaida. (***)