Kementerian Agama RI.

Institut Agama Islam Negeri Ambon

Jalan Dr. H. Tarmizi Taher - Kebun Cengkeh - Batu Merah Atas
Ambon - Maluku - Indonesia


    Kukerta Nusantara merupakan program dari Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Keagamaan di Indonesia. Selain di Kecamatan Saumlaki, Kabupaten MTB, Provinsi Maluku, Kukerta Nusantara juga diadakan secara bersamaan di Kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Kampung Skouw Sae Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, dan Kabupaten Sangihe Taland, Provinsi Sulawesi Utara. Kukerta dengan tema, 'Pendidikan Keagamaan Kerukunan dan Kebangsaan', ini diadakan untuk melanjutkan program dari Kementerian Agama RI.
    Peneliti Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Abdul Muin, dan Munawiroh, yang sekaligus menjadi pendamping mahasiswa Kukerta Nusantara di Saumlaki, kepada wartawan kemarin di IAIN Ambon, menjelaskan, secara filosofis, tanggungjawab pendidikan tinggi melekat pada keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks negara, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, maka di dalalmnya mengandung makna bahwa, negara berkewajiban memberikan layanan pendidikan kepada warganya. "Layanan pendidikan di antaranya, pemberian biaya operasional sekolah, penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana, pembinaan manajemen maupun pembinaan akademik." Termasuk juga, kata dia, bantuan biaya pendidikan bagi siswa miskin dan menyediakan tenaga pendidik, dan kependidikan.
    Secara umum, jelas Abdul Muin, kegiatan ini memiliki tujuan sebagai kelanjutan dari program riset aksi pendidikan agama, dan keagamaan di wilayah perbatasan dalam bentuk Kukerta mahasiswa dengan tujuan teoritisnya; merumuskan model penguatan pendidikan agama dan keagamaan di wilayah perbatasan. Merumuskan model pengembangan masyarakat berbasis kerukunan dan kebangsaan, serta memperluas keragaman metodologi masyarakat di lingkungan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Secara praktis, tujuannya, kata dia, untuk menyediakan pedoman pelaksanaan Riset aksi melalui Kukerta pendidikan keagamaan, kerukunan dan kebangsaan. Meningkatkan kerjasama Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan dengan PTKI dan masyarakat di wilayah perbatasan. Menerapkan ilmu yang diperoleh mahasiswa dari kampus di tengah masyarakat. Mempraktikkan cara berpikir dan bekerja multidisipliner dan lintas sektor, untuk membangun dan mengembangkan masyarakat. Penguatan dan pemerataan pendidikan agama dan keagamaan di wilayah perbatan.
    Seperti dikatakan Abdul Muin, lanjut rekannya, Munawiroh, kegiatan Kukerta Nusantara ini, merupakan kegiatan Riset aksi pendidikan agama dan keagamaan. Merupakan kegiatan tindaklanjut dari hasil penelitian, yang dilakukan sejak tahun 2010. Di mana, hasil penelitian merekomendasikan bahwa, perbatasan sangat membutuhkan SDM dan sarana-prasarana. Di sini, posisi Puslitbang, hanya pada pengembangan sumber daya manusia, bukan bagian dari lembaga yang meningkatkan sarana dan prasarana. Sehingga itu, ditindaklanjuti dalam program Kukerta Nusantara, yang kontraknya akan berlangsung selama tiga tahun ke depan, dan dimulai pada tahun ini. "Kegiatannya di enam lokasi perbatasan dengan menyediakan SDM. SDM-nya itu, dari mahasiswa KKN. Tahun ini, merupakan uji coba. Kalau berjalan mulus, maka dapat ditingkatkan dengan menambahkan peserta Kukerta dari yang ada sekarang, menjadi lebih banyak." Kegiatan, lanjut dia, pada akhirnya dapat ditemukan model pengembangan sumber daya manusia di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga.
    Ia berharap, para mahasiswa yang ikut dalam Kukerta ini, selain mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan, juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wawasan kebangsaan, baik toleransi dan kerukunan, yang mengarah kepada pendidikan empat pilar kebangsaan. "Kita harapkan agar IAIN Ambon dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan pengetahuannya tentang empat pilar kebangsaan," simpul dia.
    Sementara itu, Ketua LP2M IAIN Ambon, Dr. Ismail Tuanany, dalam pesannya berharap, agar para mahasiswa Kukerta dari IAIN Ambon ini, dapat menjadi vioner kepada masyarakat yang berada di daerah perbatasan itu. "Mereka kiranya dapat memantau dan meningkatkan sumber daya manusia masyarakat yang berada di daerah perbatasan itu. Lebih pentingnya, bahwa mereka dapat memantau aktivitas kehidupan beragama di daerah tersebut," pesan Ismail.
    Dilanjutkan dia, Kemenag RI, saat ini memiliki tagline besar, Islam moderat. Sebab itu, kiranya para mahasiswa ini, dapat juga mensosialisasikan nilai-nilai keislaman yang moderat di Saumlaki, sehingga citra keislaman sebagai rahmatan lil alamin, dapat terpatri dalam kehidupan berbangsa dan beragama, terkhusus lagi di MTB. Akui dia, Kukerta IAIN Ambon 2018 ini, berbeda dengan Kukerta sebelumnya, karena IAIN Ambon terlibat langsung menjadi salah satu penyelenggara Kukerta Nusantara, yang menjadi program Kemenag RI. Selebihnya, bahwa kegiatan Kukerta Nusantara ini merupakan program besar dari pemerintah Joko Widodo, untuk membantu peningkatan sumber daya manusia bagi masyarakat yang ada di daerah-daerah perbatasan, termasuk di Maluku, salah satunya. (***)